Langsung ke konten utama

HASIL UJI COBA RUBRIK PENILAIAN OTENTIK DENGAN MENGGUNAKAN SKALA GUTMEN, THURSTONE, SUMANTIK DIFFERENCE

Pengertian Skala Pengukuran
Skala merupakan prosedur pemberian angka-angka atau symbol lain kepada sejumlah ciri dari suatu objek. Pengukuran adalah proses, cara perbuatan mengukur yaitu suatu proses sistimatik dalam menilai dan membedakan sesuatu obyek yang diukur atau pemberian angka terhadap objek atau fenomena menurut aturan tertentu. Pengukuran tersebut diatur menurut kaidah-kaidah tertentu. Kaidah-kaidah yang berbeda menghendaki skala serta pengukuran yang berbeda pula. Misalnya, orang dapat digambarkan dari beberapa karakteristik : umur, tingkat pendidikan, jenis kelamin, tingkat pendapatan.
Skala pengukuran merupakan seperangkat aturan yang diperlukan untuk mengkuantitatifkan data dari pengukuran suatu variable. Dalam melakukan analisis statistik, perbedaan jenis data sangat berpengaruh terhadap pemilihan model atau alat uji statistik. Tidak sembarangan jenis data dapat digunakan oleh alat uji tertentu. Ketidaksesuaian antara skala pengukuran dengan operasi matematik /peralatan statistik yang digunakan akan menghasilkan kesimpulan yang tidak tepat/relevan
Ada 5 Skala Pengukuran Sikap Antara Lain
 A. SKALA LIKERT
Skala Likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat dan persepsi seseorang atau sekelompok orang tentang fenomena sosial. Contoh :. 
1.Sangat Setuju
2.Setuju
3.Ragu-ragu
4.Tidak Setuju
5.Sangat Tdk Setuju
Skala Likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi seseorang atau kelompok orang tentang fenomena sosial. Dalam penelitian, fenomena sosial ini telah ditetapkan secara spesifik oleh peneliti, yang selanjutnya disebut sebagai variabel penelitian.
Dengan skala Likert, maka variabel yang akan diukur dijabarkan menjadi indikator variabel. Kemudian indikator tersebut dijadikan sebagai titik tolak untuk menyusun item-item instrumen yang dapat berupa pernyataan atau pertanyaan, baik bersifat favorable (positif) bersifat bersifat unfavorable (negatif).
Jawaban setiap item instrumen yang mengunakan skala Likert mempunyai gradasi dari sangat positif sampai sangat negative. Sistem penilaian dalam skala Likert adalah sebagai berikut:
·         Sangat setuju/baik (5), setuju/baik (4), ragu-ragu (3), tidak setuju/baik (2), sangat tidak setuju/baik (1), atau
·         Sangat setuju/ baik (1), setuju/ baik (2), ragu-ragu (3), tidak setuju/ baik (4), sangat tidak setuju/ baik (5).
Contoh :
No.
Pernyataan
Jawaban
SS
S
RR
TS
STS
1
Kita harus menjaga kebersihan





2
Kita harus mematuhi peraturan





3
…………………………………………………





SS   = Sangat Setuju                                         TS   = Tidak Setuju
S     = Setuju                                                     1STS = Sangat Tidak Setuju
RR  = Ragu-Ragu

B. SKALA GUTTMAN
Skala pengukuran dengan tipe ini, akan di dapat jawaban yang tegas, yaitu ya atau tidak, benar atau salah, pernah atau tidak, positf atau negatif, dan lain-lain. Data yang diperoleh dapat berupa data interval atau rasio dikhotomi (dua alternatif). Jadi kalau pada skala Likert terdapat interval 1,2,3,4,5 interval, dari kata “sangat setuju” sampai “sangat tidak setuju”, maka dalam skala Gutmann hanya ada dua interval yaitu “setuju atau tidak setuju”. Penelitian menggunakan skala Guttman dilakukan bila ingin mendapatkan jawaban yang tegas terhadap suatu permasalahan yang di tanyakan.
Contoh :
Apakah anda setuju dengan kenaikan harga BBM ?
a. Setuju                      b. tidak setuju

C. SKALA THURSTONE
Skala Thurstone adalah skala yang disusun dengan memilih butir yang berbentuk skala interval. Setiap butir memiliki kunci skor dan jika diurut, kunci skor menghasilkan nilai yang berjarak sama. Skala Thurstone dibuat dalam bentuk sejumlah (40-50) pernyataan yang relevan dengan variable yang hendak diukur kemudian sejumlah ahli (20-40) orang menilai relevansi pernyataan itu dengan konten atau konstruk yang hendak diukur.
Contoh skala penilaian model Thurstone adalah seperti gambar di bawah ini.
Nilai 1 pada skala di atas menyatakan sangat tidak relevan, sedangkan nilai 11 menyatakan sangat relevan.
Contoh : minat siswa terhadap pelajaran kimia
No.
Pernyataan
Jawaban
7
6
5
4
3
2
1
1
Saya senang belajar kimia







2
Pelajaran kimia bermanfaat







3
Saya berusaha hadir tiap pelajaran kimia







4
Saya berusahan memiliki buku pelajaran kimia







Contoh lain : Angket yang disajikan menggunakan skala thurstone
Petunjuk : Pilihlah 5 (lima) buah pernyataan yang paling sesuai dengan sikap anda terhadap pelajaran matematika, dengan cara membubuhkan tanda cek (v) di depan nomor pernyataan di dalam tanda kurung.
(           )  1. Saya senang belajar matematika
(           )  2. Matematika adalah segalanya buat saya
(           )  3. Jika ada pelajaran kosong, saya lebih suka belajar matematika
(           )  4. Belajar matematika menumbuhkan sikap kritis dan kreatif
(           )  5. Saya merasa pasrah terhadap ketidak-berhasilan saya dalam matematika
(           ) 6.  Penguasaan matematika akan sangat membantu dalam mempelajari bidang studi lain
(           )7.   Saya selalu ingin meningkatkan pengetahuan & kemampuan saya dalam matematika
(           )  8. Pelajaran matematika sangat menjemukan
(           )  9. Saya merasa terasing jika ada teman membicarakan matematika

D. SEMANTIK DIFERENSIAL
Skala diferensial yaitu skala untuk mengukur sikap, tetapi bentuknya bukan pilihan ganda maupun checklist, tetapi tersusun dalam satu garis kontinum di mana jawaban yang sangat positif terletak dibagian kanan garis, dan jawaban yang sangat negative terletak dibagian kiri garis, atau sebaliknya.
Data yang diperoleh melalui pengukuran dengan skala semantic differential adalah data interval. Skala bentuk ini biasanya digunakan untuk mengukur sikap atau karakteristik tertentu yang dimiliki seseorang.
Contoh : Penggunaan skala Semantik Diferensial mengenai gaya kepemimpinan kepala sekolah.
Demokrasi
7
6
5
4
3
2
1
Otoriter
Bertanggung Jawab
7
6
5
4
3
2
1
Tidak Bertanggung Jawab
Memberi Kepercayaan
7
6
5
4
3
2
1
Mendominasi
Menghargai Bawahan
7
6
5
4
3
2
1
Tidak Menghargai Bawahan
Keputusan Diambil Bersama
7
6
5
4
3
2
1
Keputusan Diambil Sendiri
Contoh lain : Penilaian pelajaran kimia
Menyenangkan  !……..!……..!……..!……..!……..!……..!……..!……..! Membosankan
Sulit                   !……..!……..!……..!……..!……..!……..!……..!……..! Mudah
Bermanfaat        !……..!……..!……..!……..!……..!……..!……..!……..! Sia-Sia
Menantang         !……..!……..!……..!……..!……..!……..!……..!……..! Menjemukan

E. PENILAIAN (RATING SCALE)
Data-data skala yang diperoleh melalui tiga macam skala yang dikemukakan di atas adalah data kualitatif yang dikuantitatifkan. Berbeda dengan rating scale, data yang diperoleh adalah data kuantitatif (angka) yang kemudian ditafsirkan dalam pengertian kualitatif. Seperti halnya skala lainnya, dalam rating scale responden akan memilih salah satu jawaban kuantitatif yang telah disediakan.
Rating scale lebih fleksibel, tidak saja untuk mengukur sikap tetapi dapat juga digunakan untuk mengukur persepsi responden terhadap fenomena lingkungan, seperti skala untuk mengukur status sosial, ekonomi, pengetahuan, kemampuan, dan lain-lain. Dalam rating scale, yang paling penting adalah kemampuan menterjemahkan alternative jawaban yang dipilih responden.
Contoh :
Kenyamanan ruang tunggu RSU Kartini :
5          4          3          2          1
Kebersihan ruang parkir RSU Kartini :
5          4          3          2          1

PERMASALAHAN:
Skala sumantik diferensial yaitu skala untuk mengukur sikap, tetapi bentuknya bukan pilihan ganda maupun checklist, tetapi tersusun dalam satu garis kontinum di mana jawaban yang sangat positif terletak dibagian kanan garis, dan jawaban yang sangat negative terletak dibagian kiri garis, atau sebaliknya. Seperti contoh pada skala sumantik differensial diatas terdapat 7 jawaban dimana responden dapat memilih jawaban dengan skala 7 sampai 1 atau sebaliknya.
Bisakah skala jawaban itu dibuat tidak harus skala 7 sampai 1 ? misalnya skala 8 sampai 1. Jika bisa Mengapa ? Jika tidak MENGAPA ?
Apa yang menjadi patokan kita dalam pembuatan skala jawaban tersebut ? JELASKAN !



Komentar

  1. Ya bisa. Dalam menentukan skala semantik deffrent mengikuti langkah-langkahnya.
    Langkah-langkah dalam menyusun skala perbedaan semantik (semantic differensial) menurut Nazir (2009:345) sebagai berikut ini.

    1. Tentukan obyek atau konsep yang diukur.
    2. Pilih sifat bipolar yang relevan dengan masalah yang diteliti.
    3. Untuk mencari sifat bipolar yang sesuai dengan obyek atau konsep yang diinginkan, maka terlebih dahulu perlu dicari jawaban dari dua kelompok yang berbeda secara empiris.
    Skor untuk seorang responden atau subyek adalah jumlah skor dari pasangan sifat bipolar yang digunakan
    Jadi yang menjadi patokan dalam penentuan skala semantik deffrent sesuai penilaian. Jadi tidak harus 1 sd 7.

    BalasHapus
  2. menurut saya bisa. Dalam menentukan skala semantik deffrent mengikuti langkah-langkahnya.
    Langkah-langkah dalam menyusun skala perbedaan semantik (semantic differensial) menurut Nazir (2009:345) sebagai berikut ini.
    a. Tentukan obyek atau konsep yang diukur.
    b. Pilih sifat bipolar yang relevan dengan masalah yang diteliti.
    c. Untuk mencari sifat bipolar yang sesuai dengan obyek atau konsep yang diinginkan, maka terlebih dahulu perlu dicari jawaban dari dua kelompok yang berbeda secara empiris.
    Skor untuk seorang responden atau subyek adalah jumlah skor dari pasangan sifat bipolar yang digunakan
    Jadi yang menjadi patokan dalam penentuan skala semantik deffrent sesuai penilaian. Jadi tidak harus 1 sd 7.

    BalasHapus
  3. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  4. menurut saya skala semantic different tidak harus 7 sampai 1, bisa saja kita gunakan skala 8 sampai 1, ataupun yang lainnya.
    Langkah-langkah dalam menyusun skala perbedaan semantik (semantic differensial) menurut Nazir (2009:345) sebagai berikut ini.
    1. Tentukan obyek atau konsep yang diukur.
    2. Pilih sifat bipolar yang relevan dengan masalah yang diteliti.
    3. Untuk mencari sifat bipolar yang sesuai dengan obyek atau konsep yang diinginkan, maka terlebih dahulu perlu dicari jawaban dari dua kelompok yang berbeda secara empiris.

    Skor untuk seorang responden atau subyek adalah jumlah skor dari pasangan sifat bipolar yang digunakan
    Jadi yang menjadi patokan dalam penentuan skala semantik deffrent sesuai penilaian. Jadi tidak harus 1 sd 7.

    BalasHapus
  5. menurut saya bisa saja. Dalam menentukan skala semantik deffrent mengikuti langkah-langkahnya.
    Langkah-langkah dalam menyusun skala perbedaan semantik (semantic differensial) menurut Nazir (2009:345) sebagai berikut ini.
    a. Tentukan obyek atau konsep yang diukur.
    b. Pilih sifat bipolar yang relevan dengan masalah yang diteliti.
    c. Untuk mencari sifat bipolar yang sesuai dengan obyek atau konsep yang diinginkan, maka terlebih dahulu perlu dicari jawaban dari dua kelompok yang berbeda secara empiris.
    Skor untuk seorang responden atau subyek adalah jumlah skor dari pasangan sifat bipolar yang digunakan
    Jadi yang menjadi patokan dalam penentuan skala semantik deffrent sesuai penilaian. Jadi tidak harus 1 sd 7.

    BalasHapus
  6. Ya bisa. Dalam menentukan skala semantik deffrent mengikuti langkah-langkahnya.
    Langkah-langkah dalam menyusun skala perbedaan semantik (semantic differensial) menurut Nazir (2009:345) sebagai berikut ini.

    1. Tentukan obyek atau konsep yang diukur.
    2. Pilih sifat bipolar yang relevan dengan masalah yang diteliti.
    3. Untuk mencari sifat bipolar yang sesuai dengan obyek atau konsep yang diinginkan, maka terlebih dahulu perlu dicari jawaban dari dua kelompok yang berbeda secara empiris.
    Skor untuk seorang responden atau subyek adalah jumlah skor dari pasangan sifat bipolar yang digunakan
    Jadi yang menjadi patokan dalam penentuan skala semantik deffrent sesuai penilaian. Jadi tidak harus 1 sd 7.

    BalasHapus
  7. menurut saya bisa. skala perbedaan semantik (Semantic Differential) dapat digunakan untuk mengetahui bagaimana pandangan seseorang terhadap suatu obyek atau konsep apakah sama atau berbeda.
    Langkah-langkah dalam menyusun skala perbedaan semantik (semantic differensial) menurut Nazir (2009:345) sebagai berikut ini.

    1. Tentukan obyek atau konsep yang diukur.
    2. Pilih sifat bipolar yang relevan dengan masalah yang diteliti.
    3. Untuk mencari sifat bipolar yang sesuai dengan obyek atau konsep yang diinginkan, maka terlebih dahulu perlu dicari jawaban dari dua kelompok yang berbeda secara empiris. jadi penentuan skala semantik different disesuaikan dengan penilaian, tidak harus s.d 7

    Skor untuk seorang responden atau subyek adalah jumlah skor dari pasangan sifat bipolar yang digunakan

    BalasHapus
  8. Saya sependapat dengan pendapat yang lain. Menurut saya bisa. Seperti yang telah kita ketahui juga dalam memilih skala semantic deffrent mengikuti langkah-langkah penyusunnya. Langkah-langkah dalam menyusun skala perbedaan semantik (semantic differensial) menurut Nazir (2009:345) sebagai berikut ini.
    1. Tentukan obyek atau konsep yang diukur.
    2. Pilih sifat bipolar yang relevan dengan masalah yang diteliti.
    3. Untuk mencari sifat bipolar yang sesuai dengan obyek atau konsep yang diinginkan, maka terlebih dahulu perlu dicari jawaban dari dua kelompok yang berbeda secara empiris.

    Untuk patokan skor seorang responden atau subyek kita bisa menggunakan jumlah skor dari pasangan sifat bipolarnya dalam penentuan skala semantik deffrent sesuai penilaian. Jadi tidak harus 1 sd 7.

    BalasHapus
  9. saya sependapat dengan teman-teman bahwa skala sematik tidak harus 1-7 karna dalam penyusunannya mengikuti langkah-langkah :
    1. Tentukan obyek atau konsep yang diukur.
    2. Pilih sifat bipolar yang relevan dengan masalah yang diteliti.
    3. Untuk mencari sifat bipolar yang sesuai dengan obyek atau konsep yang diinginkan, maka terlebih dahulu perlu dicari jawaban dari dua kelompok yang berbeda secara empiris.

    BalasHapus
  10. menurut saya bisa saja,namun memang pada skala sematik differensial cenderung menggunakan rentang skala 1-7 dan dalam penyusunannya mengikuti langkah-langkah :
    1. Tentukan obyek atau konsep yang diukur.
    2. Pilih sifat bipolar yang relevan dengan masalah yang diteliti.
    3. Untuk mencari sifat bipolar yang sesuai dengan obyek atau konsep yang diinginkan, maka terlebih dahulu perlu dicari jawaban dari dua kelompok yang berbeda secara empiris. jadi penentuan skala semantik different disesuaikan dengan penilaian, tidak harus s.d 7

    Skor untuk seorang responden atau subyek adalah jumlah skor dari pasangan sifat bipolar yang digunakan

    BalasHapus
  11. Ya bisa. Dalam menentukan skala semantik deffrent mengikuti langkah-langkahnya.
    Langkah-langkah dalam menyusun skala perbedaan semantik (semantic differensial) menurut Nazir (2009:345) sebagai berikut ini.

    1. Tentukan obyek atau konsep yang diukur.
    2. Pilih sifat bipolar yang relevan dengan masalah yang diteliti.
    3. Untuk mencari sifat bipolar yang sesuai dengan obyek atau konsep yang diinginkan, maka terlebih dahulu perlu dicari jawaban dari dua kelompok yang berbeda secara empiris.

    BalasHapus
  12. menurut saya bisa, karena Langkah-langkah dalam menyusun skala perbedaan semantik (semantic differensial) menurut Nazir (2009:345) sebagai berikut ini.
    a. Tentukan obyek atau konsep yang diukur.
    b. Pilih sifat bipolar yang relevan dengan masalah yang diteliti.
    c. Untuk mencari sifat bipolar yang sesuai dengan obyek atau konsep yang diinginkan, maka terlebih dahulu perlu dicari jawaban dari dua kelompok yang berbeda secara empiris.
    Skor untuk seorang responden atau subyek adalah jumlah skor dari pasangan sifat bipolar yang digunakan
    Jadi yang menjadi patokan dalam penentuan skala semantik deffrent sesuai penilaian. Jadi tidak harus 1 sd 7.

    BalasHapus

Posting Komentar