Penilaian
Keterampilan proses sains
Keterampilan
berarti kemampuan menggunakan pikiran, nalar, dan perbuatan secara efisien dan
efektif untuk mencapai suatu hasil tertentu, termasuk kreativitas. Proses
didefinisikan sebagai perangkat keterampilan kompleks yang digunakan ilmuwan
dalam melakukan penelitian ilmiah. Proses merupakan konsep besar yang dapat
diuraikan menjadi komponen-komponen yang harus dikuasai seseorang bila akan
melakukan penelitian.
Sains
(science) diambil dari kata latin scientia yang arti harfiahnya adalah
pengetahuan. Sund dan Trowbribge merumuskan bahwa Sains merupakan kumpulan
pengetahuan dan proses. Sedangkan Kuslan Stone menyebutkan bahwa Sains adalah
kumpulan pengetahuan dan cara-cara untuk mendapatkan dan mempergunakan
pengetahuan itu. Sains merupakan produk dan proses yang tidak dapat dipisahkan.
Sains sebagai proses merupakan langkah-langkah yang ditempuh para ilmuwan untuk
melakukan penyelidikan dalam rangka mencari penjelasan tentang gejala-gejala
alam. Langkah tersebut adalah merumuskan masalah, merumuskan hipotesis,
merancang eksperimen, mengumpulkan data, menganalisis dan akhimya menyimpulkan.
Dari sini tampak bahwa karakteristik yang mendasar dari Sains ialah
kuantifikasi artinya gejala alam dapat berbentuk kuantitas.
Perkembangan
ilmu pengetahuan sains berupaya membangkitkan minat manusia agar mau
meningkatkan kecerdasan dan pemahamannya tentang alam seisinya yang penuh
dengan rahasia yang tak habis-habisnya. Dengan tersingkapnya tabir rahasia alam
itu satu persatu, serta mengalirnya informasi yang dihasilkannya, jangkauan
sains semakin luas dan lahirlah sifat terapannya, yaitu teknologi. Namun dari
waktu jarak tersebut semakin lama semakin sempit, sehingga semboyan ” Sains
hari ini adalah teknologi hari esok” merupakan semboyan yang berkali-kali
dibuktikan oleh sejarah. Bahkan kini Sains dan teknologi manunggal menjadi
budaya ilmu pengetahuan dan teknologi yang saling mengisi (komplementer),
ibarat mata uang, yaitu satu sisinya mengandung hakikat Sains (the nature of
Science) dan sisi yang lainnya mengandung makna teknologi (the meaning of
technology). Oleh karena itu, proses pelaksanaan pendidikan harus mencakup
perkembangan teknologi dan sains demi kebutuhan manusia di masa yang akan
datang.
Menurut
Blosser proses pembelajaran sains cenderung menekankan pada pemberian
pengalaman langsung untuk mengembangkan kompetensi dan menumbuhkan kemampuan
berfikir. Pembentukan sikap ilmiah seperti ditunjukan oleh para ilmuawan sains
dapat dikembangkan melalui keterampilan-keterampilan proses sains. Sehingga
keterampilan proses sains, dapat digunakan sebagai pendekatan dalam
pembelajaran.
Pendekatan
keterampilan proses adalah proses pembelajaran yang dirancang sedemikian rupa
sehingga siswa menemukan fakta-fakta, membangun konsep-konsep dan teori-teori
dengan keterampilan intelektual dan sikap ilmiah siswa sendiri. Siswa diberi
kesempatan untuk terlibat langsung dalam kegiatan-kegiatan ilmiah seperti yang
dikerjakan para ilmuwan, tetapi pendekatan keterampilan proses tidak bermaksud
menjadikan setiap siswa menjadi ilmuwan. Keterampilan Proses Sains (KPS) adalah
kemampuan siswa untuk menerapkan metode ilmiah dalam memahami, mengembangkan
dan menemukan ilmu pengetahuan. KPS sangat penting bagi setiap siswa sebagai
bekal untuk menggunakan metode ilmiah dalam mengembangkan sains serta
diharapkan memperoleh pengetahuan baru/ mengembangkan pengetahuan yang telah
dimiliki.
Keterampilan
proses sains sebagai pendekatan dalam pembelajaran sangat penting karena
menumbuhkan pengalaman selain proses belajar. Mengingat semakin banyaknya
sekolah yang telah memiliki laboratorium Biologi, sehingga perlu upaya
meningkatkan efektivitas pembelajaran, khususnya prestasi hasil belajar kognitif
yang didukung oleh keterampilan serta sikap dan prilaku yang baik. Oleh karena
itu para guru hendaknya secara bertahap mulai bergerak melakukan penilaian
hasil belajar dalam aspek keterampilan dan sikap.
Pentingnya Keterampilan Proses Sains
Penguasaan
keterampilan proses dapat diukur dengan tes penampilan. Tes penampilan
(performance assesment) dapat diobservasi, jawabannya dapat secara tertulis
atau lisan. Dalam tes penampilan dapat diketahui keterampilan dan cara berpikir
responden atau siswa. Tes penampilan masih sangat jarang dilakukan.
Dalam setiap
tujuan pembelajaran (umum) untuk masing-masing pokok bahasan atau konsep
terdapat kata kerja berkenaan dengan perilaku dan cara mencapainya. Misalnya
rumusan tujuan berikut: siswa memahami ketergantungan antar makhluk hidup
dengan melakukan pengamatan dan menafsirkan hasil pengamatannya. Dalam rumusan
tersebut nampak ada konsep dan keterampilan proses sains (melakukan pengamatan,
menafsirkan hasil pengamatan).
Jika rumusan
tujuan berikut: siswa mampu melakukan percobaan tentang arus listrik, energi
dan sumber energi listrik serta mampu menerapkan pengetahuannya dalam kehidupan
sehari-hari. Dalam rumusan tujuan tersebut tujuan utamanya adalah keterampilan
proses (mampu melakukan percobaan, menerapkan pengetahuan) tentang konsep (arus
listrik, energi, dan seterusnya). Dari kedua contoh rumusan tujuan tersebut,
dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa keterampilan proses sains harus melalui
pembelajaran konsep dan menghasilkan pengalaman belajar siswa.
Menurut Semiawan
(1992:14-15) dalam Nuh (2010), terdapat empat alasan mengapa pendekatan
keterampilan proses sains diterapkan dalam proses belajar mengajar sehari-hari,
yaitu :
a.
Perkembangan
ilmu pengetahuan dan teknologi berlangsung semakin cepat sehingga tidak mungkin
lagi guru mengajarkan semua konsep dan fakta pada siswa,
b.
Adanya
kecenderungan bahwa siswa lebih memahami konsep-konsep yang rumit dan abstrak
jika disertai dengan contoh yang konkret,
c.
Penemuan dan
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tidak bersifat mutlak 100 %, tapi
bersifat relatif,
d.
Dalam proses
belajar mengajar, pengembangan konsep tidak terlepas dari pengembangan sikap
dan nilai dalam diri anak didik.
Menurut Nuh
(2010), beberapa hal yang mempengaruhi keterampilan proses sains yang dituntut
untuk dimiliki siswa. Hal-hal yang berpengaruh terhadap keterampilan proses
sains, diantaranya yaitu perbedaan kemampuan siswa secara genetik, kualitas
guru serta perbedaan strategi guru dalam mengajar.
Komponen Penilaian Keterampilan Proses Sains
Metode ialah
suatu kerangka kerja untuk melakukan suatu tindakan, atau suatu kerangka
berpikir menyusun gagasan, yang beraturan, berarah dan berkonteks, yang paut
(relevant) dengan maksud dan tujuan. Unsur-unsur metode ialah wawasan
intelektual, konsep, cara penghampiran (approach) persoalan, dan rancang bangun
alas data (database) . wawasan intelektual berkenaan dengan nalar, tanggap
rasa, cerapan, pengalaman, dan ilmu pengetahuan.
Konsep
adalah hasil proses intelektual berupa kejadian imajinatif untuk memperluas
atau memperkaya cerapan. Cerapan adalah seni merangkaikan sesuatu yang
terhayati dengan tanggap rasa dengan pengalaman dan pengetahuan yang dimiliki.
Cerapan digolongkan seni karena banyak melibatkan bakat atau pembawaan. Alas
data adalah cerminan citra tentang kenyataan yang dimiliki seorang peneliti
atau cerapan peneliti tentang kenyataan.
Metode
ilmiah merupakan prosedur dalam mendapatkan pengetahuan atau pendekatan
rasional yang digabungkan dengan pendekatan empirisme. Menurut Notohadiprawiro
(2006), metode ilmiah menggabungkan rasionalisme dengan empirisme. Dengan
rasionalisme landasan pemikiran terpadu dan mantik, dan dengan empirisme
diperoleh kerangka pengujian dalam memastikan kebenaran. Rasionalisme dapat
menimbulkan kontroversi karena hakekat kebenaran tidak sama bagi semua orang.
Empirisme bersifat subjektif karena memberikan arti kepada peristiwa menurut
tafsiran atau pendapat pengamat. Perumusan masalah, penyusunan kerangka
berpikir dalam pengajuan hipotesis, perumusan hipotesis, pengujian hipotesis,
dan penarikan kesimpulan.
Pelaksanaan Penilaian Keterampilan Proses Sains
Penilaian
merupakan proses pemberian atau penentuan nilai kepada objek berdasarkan
criteria tertentu. Penilaian merupakan tahapan penting dalam proses
pembelajaran. Penilaian keterampilan proses sains merupakan pendekatan untuk
mengukur dan menilai kemampuan kinerja siswa dalam menyelesaikan tugas atau
dalam mempertunjukkan kegiatan. Kinerja merupakan tanggapan aktif siswa secara
langsung atau tidak langsung yang berupa proses atau prosedur atau hasil.
Cara Mengukur Keterampilan Proses Sains
a.
Karakteristik Pokok Uji Keterampilan Proses Sains
Karakteristik umum, yaitu:
1.
Pokok uji
keterampilan proses tidk boleh dibebani konsep. Hal ini diupayakan agar poko
uji tidak rnacu dengan pengukuran penguasaan konsepnya. Konsep yang terlibat
harus diyakini oleh penyusun pokok uji sudah dipelajari siswa atau tidak asing
bagi siswa.
2.
Mengandung sejumlah
informasi yang harus diolah responden atau siswa. Informasinya dapat berupa
gambar, diagram, grafik, data dalam tabel atau uraian, atau objek aslinya.
3.
Aspek yang
akan diukur harus jelas dan hanya mengandung satu aspek saja, misalnya interpretasi.
b.
Karakteristik khusus, yaitu:
1.
Observasi
harus dari objek atau peristiwa sesungguhnya
2.
Interpretasi
harus menyajikan sejumlah data untuk memperlihatkan pola
3.
Klasifikasi harus
ada kesempatan mencari/menemukan persamaan dan perbedaan, atau diberikan
kriteria tertentu untuk melakukan pengelompokan atau ditentukan jumlah kelompok
yang harus terbentuk
4.
Prediksi
harus jelas pola atau kecenderungan untuk dapat mengajukan dugaan atau ramalan
5.
Berkomunikasi
harus ada satu bentuk penyajian tertentu untuk diubah ke bentuk penyajian
lainnya, misalnya bentuk uraian ke bentuk bagan atau bentuk tabel ke bentuk
grafik.
6.
Berhipotesis
dapat merumuskan dugaan atau jawaban sementara, atau menguji pernyataan yang
ada dan mengandung hubungan dua variabel atau lebih, biasanya mengandung cara
kerja untuk menguji atau membuktikan.
7.
Merencanakan
percobaan atau penyelidikan harus memberi kesempatan untuk mengusulkan gagasan
berkenaan dengan alat/bahan yang akan digunakan, urutan prosedur yang harus
ditempuh, menentukan peubah, mengendalikan peubah.
8.
Menerapkan
konsep atau prinsip harus membuat konsep/prinsip yang akan diterapkan tanpa
menyebutkan nama konsepnya.
9.
Mengajukan
pertanyaan harus memunculkan sesuatu yang mengherankan, mustahil, tidak biasa
atau kontraktif agar responden atau siswa termotivasi untuk bertanya.
Penyusunan Pokok Uji Keterampilan Proses sains
Penyusunan
pokok uji KPS sebaiknya memilih satu konsep tertentu lalu menyajikan sejumlah
informasi yang perlu diolah. Setelah itu menentukan bentuk jawaban yang diminta
misalnya tanda silang, tanda cek, atau menuliskan jawaban singkat 3 buah lalu
menyiapkan pertanyaan untuk memperoleh jawaban yang diharapkan. Misalnya uji
keterampilan observasi tentang bagian-bagian bunga. Mengajukan pertanyaan
mengenai jumlah kelopak, jumlah dan keadaan daun mahkota bunga, bentuk kepala
sari, keadaan kepala putik, dan ciri bunga tersebut. Respon diminta dalam
bentuk jawaban singkat lima buah berurutan ke bawah dari a sampai e.
Pemberian Skor Pokok Uji Keterampilan Proses Sains
Pokok uji
keterampilan proses memerlukan skor dengan cara tertentu. Setiap respon yang
benar diberi skor dengan bobot tertentu, umpamanya masing-masing 1 untuk pokok
uji observasi di atas yang berarti jumlah skornya 5. Untuk respon yang lebih
kompleks, misalnya membuat pertanyaan, dapat diberi skor bervariasi berdasarkan
tingkat kesulitannya. Misalnya pertanyaan berlatar belakang hipotesis diberi skor
3; pertanyaan apa, mengapa, bagaimana diberi skor 2; pertanyaan yang meminta
penjelasan diberi skor 1.
Penilaian
keterampilan proses sains dilakukan dengan menggunakan instrumen yang
disesuaikan dengan materi dan tingkat perkembangan siswa atau tingkatan
kelas (Rezba, 1999). Oleh karena itu, penyusunan instrumen penilaian harus
direncanakan secara cermat sebelum digunakan. Menurut Widodo (2009),
penyusunan instrumen untuk penilaian terhadap keterampilan proses siswa dapat
dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut:
1.
Mengidentifikasikan
jenis keterampilan proses sains yang akan dinilai.
2.
Merumuskan
indikator untuk setiap jenis keterampilan proses sains.
3.
Menentukan
dengan cara bagaimana keterampilan proses sains tersebut diukur (misalnya
apakah tes unjuk kerja, tes tulis, ataukah tes lisan).
4.
Membuat
kisi-kisi instrumen.
5.
Mengembangkan
instrumen pengukuran keterampilan proses sains berdasarkan kisi-kisi yang
dibuat. Pada saat ini perlu mempertimbangkan konteks dalam item tes
keterampilan proses sains dan tingkatan keterampilan proses sains (objek tes)
6.
Melakukan
validasi instrumen.
7.
Melakukan
ujicoba terbatas untuk mendapatkan validitas dan reliabilitas empiris.
8.
Perbaikan
butir-butir yang belum valid.
9.
Terapkan
sebagai instrumen penilaian keterampilan proses sains dalam pembelajaran sains.
Pada langkah-langkah penyusunan instrument di atas, pencarian validitas dan
reabilitas empiris terutama dilakukan untuk penilaian keterampilan proses sains
yang beresiko tinggi. Penilaian yang beresiko tinggi yang dimaksud adalah
penilaian dalam penelitian, penilaian dalam skala besar atau penilaian untuk
tujuan tertentu.
Pengukuran
terhadap keterampilan proses siswa, dapat dilakukan dengan menggunakan
instrumen tertulis. Pelaksanaan pengukuran dapat dilakukan secara tes (paper
and pencil test) dan bukan tes. Penilaian melalui tes dapat dilakukan dalam
bentuk tes tertulis (paper and pencil test). Sedangkan penilaian melalui bukan
tes dapat dilakukan dalam bentuk observasi atau pengamatan. Penilaian dalam
keterampilan proses agak sulit dilakukan melalui tes tertulis dibandingkan
dengan teknik observasi. Namun demikian, menggunakan kombinasi kedua teknik
penilaian tersebut dapat meningkatkan akurasi penilaian terhadap keterampilan
proses sains.
Penilaian keterampilan
proses melalui tes tertulis
Penilaian secara tertulis terhadap keterampilan proses
sains dapat dilakukan dalam bentuk essai dan pilihan ganda . Pertanyaan yang
disusun dalam bentuk pertanyaan konvergen dan pertanyaan divergen. Penilaian
dalam bentuk essai memerlukan jawaban yang berupa pembahasan atau uraian
kata-kata. Jawaban yang dituliskan oleh siswa akan lebih bersifat subjektif,
yang berarti menggambarkan pemahaman yang lebih indiviualistik.
Penilaian
keterampilan proses melalui bukan tes
Penilaian melalui keterampilan proses sains
melalui bukan tes dapat dilakukan dalam bentuk observasi atau pengamatan.
Pengamatan dalam penilaian ini dapat dilakukan secara langsung maupun tidak
langsung. Selama proses kegiatan pembelajaran sains dilaksanakan, guru dapat
melakukan penilaian dengan mengamati perilaku siswa secara langsung dalam
menunjukkan kemampuan keterampilan proses sains yang dimiliki. Selain itu,
hasil-hasil pekerjaan tugas siswa atau produk hasil belajar siswa juga dapat
diamati untuk menilai keterampilan proses siswa secara integrative.
Sebuah contoh rubrik penilaian untuk mengukur kegiatan percobaan
laboratorium dapat disajikan, sebagai berikut:
Tabel 1. Rubrik Percobaan
Laboratorium
Kriteria
|
Skor
|
|||
4
(sangat
baik)
|
3
(baik)
|
2
(cukup)
|
1
(kurang)
|
|
Tujuan percobaan
|
Mengidentifikasi
tujuan dan cirri khusus
|
Mengidentifikasi
tujuan
|
Mengidentifikasi
sebagian tujuan
|
Salah
mengidentifikasi tujuan
|
Alat dan Bahan
|
Melist semua alat
dan bahan
|
Melist semua
bahan
|
Melist beberapa
bahan
|
Salah melist
bahan
|
Hypotesis
|
Memprediksi
dengan benar fakta dan membuat hipotesis
|
Memprediksi
dengan benar fakta
|
Memprediksi
dengan beberapa fakta
|
Menebak-nebak
|
Prosedur
|
Melist semua
tahap dan detail-detail khusus
|
Melist semua
tahap
|
Melist beberapa
tahap
|
Salah melist
tahap
|
Hasil
|
Data direkam,
diorganisir, dan digrafiskan
|
Data direkam,
diorganisir
|
Data direkam
|
Hasil salah atau
tidak betul
|
Simpulan
|
Tampak memahami
konsep dan membuat hipotesis baru untuk aplikasi pada situasi lain.
|
Tampak memahami
konsep yang telah dipelajari
|
Tampak memahami
beberapa konsep
|
Tidak ada
kesimpulan atau tampak miskonsepsi
|
Sebagaimana pada contoh di atas, sebuah rubrik memuat dua komponen, yaitu
kriteria dan level unjuk kerja (performance). Pada setiap rubrik terdiri atas
minimal dua criteria dan dua level unjuk kerja. Kriteria biasanya ditempatkan
pada kolom paling kiri, sedangkan level unjuk kerja ditempatkan pada baris
paling atas dalam tabel rubrik. Untuk memudahkan dalam
penggunaannya, level unjuk kerja terdiri atas level kuantitatif berupa angka (1,
2, 3, dan 4) dan level kualitatif.
Dalam rubrik biasanya juga disertai dengan deskriptor. Dekriptor menyatakan
harapan kondisi siswa pada setiap level unjuk kerja untuk setiap kriteria. Pada
contoh rubrik, dapat dilihat adanya perbedaan diskriptor antara tujuan kegiatan
yang dirumuskan dengan sangat baik dan tujuan kegiatan yang dirumuskan dengan
baik. Pada deskriptor, siswa dapat melihat syarat unjuk kerja untuk mencapai
sebuah level kriteria. Bagi guru, deskriptor dapat membantu guru untuk
memberikan penilaian secara konsisten pada hasil kerja siswa.
Dalam implementasinya, penilaian melalui observasi dengan menggunakan
rubrik penilaian memiliki beberapa keunggulan. Ketika rubrik penilaian ini
dikomunikasikan kepada siswa di awal pembelajaran, ekspektasi terhadap
pencapaian level keterampilan proses dapat diidentifikasikan dan dipahami
secara baik oleh siswa. Observasi dapat menghasilkan penilaian yang konsisten
dan obyektif. Selain itu, hasil penilaian dapat menghasilkan umpan balik
(feedback) yang lebih baik. Hasil penilaian dapat menunjukkan level khusus
performans siswa selanjutnya yang harus dicapai oleh siswa.
PERMASALAHAN:
Penilaian
secara tertulis terhadap keterampilan proses sains dapat dilakukan dalam bentuk
essai dan pilihan ganda . Pertanyaan yang disusun dalam bentuk pertanyaan
konvergen dan pertanyaan divergen. Seperti apakah pertanyaan konvergen dan
pertanyaan divergen itu ( pada materi kimia ?. jelaskan !
Tipe Pertanyaan berdasarkan tipe jawaban yang diinginkan
BalasHapus1. Pertanyaan konvergen.
Pertanyaan tipe konvergen serupa dengan pertanyaan sempit, dimana tipe pertanyaan ini memiliki hanya satu jawaban yang benar. Karena itu tipe pertanyaan ini sering dianggap sama dengan tipe pertanyaan tingkat rendah. Tipe pertanyaan konvergen dapat berkaitan dengan logika atau data yang kompleks, idea yang abstrak, analogis dan multi hubungan.
Hasil penelitian menunjukkan tipe pertanyaan konvergen dapat digunakan ketika siswa hendak memecahkan kesulitan dalam latihan soal Matematika atau IPA utamanya analisis persamaan dan problem istilah. Kata tanya dasar untuk pertanyaan tipe konvergen dimulai dengan kata : apa, siapa, kapan atau dimana. apakah nama kimia dari senyawa NaCL... ?
2. Pertanyaan divergen
Pertanyaan divergen adalah pertanyaan yang bersifat terbuka dan memiliki banyak jawaban yang berbeda-beda. Pertanyaan ini menantang kreatifitas berfikir anak dengan terlebih dahulu guru menyediakan contoh dan bukti-bukti. Pertanyaan tipe divergen berhubungan dengan proses berfikir tingkat tinggi yang menentang anak untuk berfikir kreatif dan belajar proses penemuan. Kata tanya dasar untuk mengawali pertanyaan tipe divergen biasanya digunakan kata bagaimana, mengapa. Contoh : Mengapa biaya hidup langit berwarna biru ?
menurut saya Tipe Pertanyaan berdasarkan tipe jawaban yang diinginkan
BalasHapus1. Pertanyaan konvergen.
Pertanyaan tipe konvergen serupa dengan pertanyaan sempit, dimana tipe pertanyaan ini memiliki hanya satu jawaban yang benar. Karena itu tipe pertanyaan ini sering dianggap sama dengan tipe pertanyaan tingkat rendah. Tipe pertanyaan konvergen dapat berkaitan dengan logika atau data yang kompleks, idea yang abstrak, analogis dan multi hubungan.
Hasil penelitian menunjukkan tipe pertanyaan konvergen dapat digunakan ketika siswa hendak memecahkan kesulitan dalam latihan soal Matematika atau IPA utamanya analisis persamaan dan problem istilah. Kata tanya dasar untuk pertanyaan tipe konvergen dimulai dengan kata : apa, siapa, kapan atau dimana. apakah nama kimia dari senyawa NaCL... ?
2. Pertanyaan divergen
Pertanyaan divergen adalah pertanyaan yang bersifat terbuka dan memiliki banyak jawaban yang berbeda-beda. Pertanyaan ini menantang kreatifitas berfikir anak dengan terlebih dahulu guru menyediakan contoh dan bukti-bukti. Pertanyaan tipe divergen berhubungan dengan proses berfikir tingkat tinggi yang menentang anak untuk berfikir kreatif dan belajar proses penemuan. Kata tanya dasar untuk mengawali pertanyaan tipe divergen biasanya digunakan kata bagaimana, mengapa. Contoh : Mengapa biaya hidup langit berwarna biru ?
Tipe Pertanyaan berdasarkan tipe jawaban yang diinginkan
BalasHapus1. Pertanyaan konvergen.
Pertanyaan tipe konvergen serupa dengan pertanyaan sempit, dimana tipe pertanyaan ini memiliki hanya satu jawaban yang benar. Karena itu tipe pertanyaan ini sering dianggap sama dengan tipe pertanyaan tingkat rendah. Tipe pertanyaan konvergen dapat berkaitan dengan logika atau data yang kompleks, idea yang abstrak, analogis dan multi hubungan.
Hasil penelitian menunjukkan tipe pertanyaan konvergen dapat digunakan ketika siswa hendak memecahkan kesulitan dalam latihan soal Matematika atau IPA utamanya analisis persamaan dan problem istilah. Kata tanya dasar untuk pertanyaan tipe konvergen dimulai dengan kata : apa, siapa, kapan atau dimana. apakah nama kimia dari senyawa NaCL... ?
2. Pertanyaan divergen
Pertanyaan divergen adalah pertanyaan yang bersifat terbuka dan memiliki banyak jawaban yang berbeda-beda. Pertanyaan ini menantang kreatifitas berfikir anak dengan terlebih dahulu guru menyediakan contoh dan bukti-bukti. Pertanyaan tipe divergen berhubungan dengan proses berfikir tingkat tinggi yang menentang anak untuk berfikir kreatif dan belajar proses penemuan. Kata tanya dasar untuk mengawali pertanyaan tipe divergen biasanya digunakan kata bagaimana, mengapa. Contoh : Mengapa biaya hidup langit berwarna biru ?
Menurut Carin dan Sund (1978), pertanyaan konvergen atau pertanyaan tertutup memungkinkan jawaban yang terbatas sekali jumlahnya,
BalasHapuscontoh :
apakah nama kimia dari senyawa NaCL... ?
"Siapakah penemu hukum gravitasi?"
"Apa saja yang termasuk sifat-sifat air?"
sedangkan pertanyaan divergen atau terbuka memungkinkan banyak jawaban dan menyebabkan murid lebih kreatif.
contoh :
"Apa saja yang harus dilakukan agar kita dapat menghemat energi listrik di rumah"
"Bagaimana caranya agar pada musim hujan kita tidak terkena bahaya banjir?"
.Menurut Carin dan Sund (1978), pertanyaan konvergen atau pertanyaan tertutup memungkinkan jawaban yang terbatas sekali jumlahnya,
BalasHapuscontoh :
apakah nama kimia dari senyawa NaCL... ?
"Siapakah penemu hukum gravitasi?"
.sedangkan pertanyaan divergen atau terbuka memungkinkan banyak jawaban dan menyebabkan murid lebih kreatif.
contoh :
"Apa saja yang harus dilakukan agar kita dapat menghemat energi listrik di rumah"
"Bagaimana caranya agar pada musim hujan kita tidak terkena bahaya banjir?"
Tipe Pertanyaan berdasarkan tipe jawaban yang diinginkan
BalasHapus1. Pertanyaan konvergen.
Pertanyaan tipe konvergen serupa dengan pertanyaan sempit, dimana tipe pertanyaan ini memiliki hanya satu jawaban yang benar. contoh: apakah lambang unsur dari Hidrogen ?
2. Pertanyaan divergen
Pertanyaan divergen adalah pertanyaan yang bersifat terbuka dan memiliki banyak jawaban yang berbeda-beda. Contoh : Mengapa sabun itu bersifat basa?
1. Pertanyaan konvergen.
BalasHapusPertanyaan tipe konvergen serupa dengan pertanyaan sempit, dimana tipe pertanyaan ini memiliki hanya satu jawaban yang benar. Karena itu tipe pertanyaan ini sering dianggap sama dengan tipe pertanyaan tingkat rendah. Tipe pertanyaan konvergen dapat berkaitan dengan logika atau data yang kompleks, idea yang abstrak, analogis dan multi hubungan.
contoh : apa nama senyawa dari NaOH?
2. Pertanyaan divergen
Pertanyaan divergen adalah pertanyaan yang bersifat terbuka dan memiliki banyak jawaban yang berbeda-beda. Pertanyaan ini menantang kreatifitas berfikir anak dengan terlebih dahulu guru menyediakan contoh dan bukti-bukti. Pertanyaan tipe divergen berhubungan dengan proses berfikir tingkat tinggi yang menentang anak untuk berfikir kreatif dan belajar proses penemuan. Kata tanya dasar untuk mengawali pertanyaan tipe divergen biasanya digunakan kata bagaimana, mengapa. Contoh : MENGAPA H2SO4 ITU BERSIFAT ASAM..
Dalam membuat pertanyaan soal disesuaikan dengan jawaban.
BalasHapusberdasarkan tipe jawaban yang diinginkan
1. Pertanyaan konvergen.
Pertanyaan tipe konvergen serupa dengan pertanyaan sempit, dimana tipe pertanyaan ini memiliki hanya satu jawaban yang benar. contoh: Tuliskan rumus kimia Asam Klorida ?
2. Pertanyaan divergen
Pertanyaan divergen adalah pertanyaan yang bersifat terbuka dan memiliki banyak jawaban yang berbeda-beda. Contoh : Mengapa larutan garam dapur bersifat elektrolit?
- 1. Pertanyaan konvergen.
BalasHapusPertanyaan tipe konvergen serupa dengan pertanyaan sempit, dimana tipe pertanyaan ini memiliki hanya satu jawaban yang benar. Contoh : Tuliskan rumus kimia senyawa natrium klorida
- 2. Pertanyaan divergen
Pertanyaan divergen adalah pertanyaan yang bersifat terbuka dan memiliki banyak jawaban yang berbeda-beda. Contoh : seubutkan contoh koloid
Pertanyaan tipe konvergen serupa dengan pertanyaan sempit, dimana tipe pertanyaan ini memiliki hanya satu jawaban yang benar. Karena itu tipe pertanyaan ini sering dianggap sama dengan tipe pertanyaan tingkat rendah. Tipe pertanyaan konvergen dapat berkaitan dengan logika atau data yang kompleks, idea yang abstrak, analogis dan multi hubungan.
BalasHapusHasil penelitian menunjukkan tipe pertanyaan konvergen dapat digunakan ketika siswa pehendak memecahkan kesulitan dalam latihan soal Matematika atau IPA utamanya analisis persamaan dan problem istilah. Kata tanya dasar untuk pertanyaan tipe konvergen dimulai dengan kata : apa, siapa, kapan atau dimana. contohnya: apa yang dimaksud dengan koloid?
Pertanyaan divergen adalah pertanyaan yang bersifat terbuka dan memiliki banyak jawaban yang berbeda-beda. Pertanyaan ini menantang kreatifitas berfikir anak dengan terlebih dahulu guru menyediakan contoh dan bukti-bukti. Pertanyaan tipe divergen berhubungan dengan proses berfikir tingkat tinggi yang menentang anak untuk berfikir kreatif dan belajar proses penemuan. Kata tanya dasar untuk mengawali pertanyaan tipe divergen biasanya digunakan kata bagaimana, atau mengapa. contoh: mengapa larutan koloid dapat menghamburkan cahaya?
- Pertanyaan konvergen.
BalasHapusPertanyaan tipe konvergen serupa dengan pertanyaan sempit, dimana tipe pertanyaan ini memiliki hanya satu jawaban yang benar. Karena itu tipe pertanyaan ini sering dianggap sama dengan tipe pertanyaan tingkat rendah.
contoh : apa nama senyawa dari NaCl?
- Pertanyaan divergen
Pertanyaan divergen adalah pertanyaan yang bersifat terbuka dan memiliki banyak jawaban yang berbeda-beda. Pertanyaan ini menantang kreatifitas berfikir anak dengan terlebih dahulu guru menyediakan contoh dan bukti-bukti. Pertanyaan tipe divergen berhubungan dengan proses berfikir tingkat tinggi yang menentang anak untuk berfikir kreatif dan belajar proses penemuan.
Contoh : Mengapa H3O+ itu bersifat basa?